Saturday, 20 June 2015

Mimpi sajalah

Mimpi sajalah sudah...

"Goodnite my beib...
i miss and hope you"
Mimpi sajalah sudah bagus

"Beib, aku bangga sama kamu
Semangat ya"
Mimpi sajalah sudah nyaman rasanya

"Pokoknya aku dan kamu
Mengalir saja ya beib"
Mimpi sajalah sudah lega rasanya

"Beib, kok lama gak nongol
kemana kamu beib?"
Mimpi sajalah walau tak bertanya

"Pokoknya kamu mau kemana,
Aku antar beib, aku padamu"
Mimpi sajalah sambil tertawa

Dan mimpi-mimpi itu akan terus
terus menghantui
ketika ku terbangun dari tidur

Dan mimpi-mimpi itu akan terus
membuatku selalu ingin kamu
walau kamu hanya mimpi
sebatas cakrawala memandang
di atas angin kuterbuai

Dan akhirnya ketakutan padaku
karena mimpi tak pernah datang lagi
Dan mimpi terakhir itu
"Beib, kamu terlalu berani bermimpi untukku, ini hanya permainan hati saja!"
Dan berakhir menangis


@kamu ya kamu
#by.endah septi//lionel statham/20/06/15





Siapa aku

Siapa aku

Pertanyaan itu yang sepantasnya
merasa bukan aku sebenarnya
titian rasa mengecap getir di lidah
kaku beku dan kelu tuk meludah

Tidak berperasaan menghakimi diri
merobek kerah putih
justru mengganti dengan kerah hitam
hanya sebagai kiasan
bahwa aku telah perkosa diriku sendiri

Keajaiban tak kan datang lagi
penyesalan tak tertunda lagi
mainkan saja sesenang hati
karena rasa sudah tak ada lagi
tergambar jelas di hati
sekarang tergurat pun tak jadi

Sudah begini saja sampai nanti
tak tau harus menjawab apa
siapa aku? 
Dahulu sudah begini? ataukah
kemarin karena sakit hati?
Atau sekarang ku sedang mencoba jati diri?

@him, and ask him

#by.endah septi//lionel statham/20/06/15

Monday, 15 June 2015

KUMPULAN PUISI ENDAH

kumpulan puisi



Tak Mungkin
Karya : Endah Utari

Aku mau selalu untukmu
Dalam hidupku hanya dirimu satu
Selalu dan selamanya tak terganti
Walau lekang di makan hari
kekasihku

Ku mau menjadi mimpi indahmu
Fatamorgana suci untuk hatimu
Karena ku tau tak kan mampu
tak kan bisa
Menjadi yang terakhir bagimu

Sampai kapan menangis darah
Menahan terlalu perasaan
Kalau separuh hatimu untuknya
Dan kini hanya lirih terucap
Ijinkan aku selalu menantimu

Pengampunan-Mu asa hatiku
Karya : Endah Utari

Ketika takbir berkumandang pada senja
Kuteteskan pada wajahku, air suci
Kubasuh dan kuusap dengan tangan hamba
Hingga tetesan terakhir pada ujung kaki

Kuredamkan hati ini
Sembari kupanjatkan ayat suci

Kulantunkan ayat-ayat-Mu
Iringi isakan tangis dalam diri
Bersujud aku di hadap-Mu
Memohon ampunan dari seribu dosa
Yang selalu kuukir tanpa atau dengan niat

Semua hanya Kau sebagai peradilan
Karunia, kebesaran, dan kekuatan-Mu
Adalah cahaya yang terangi dan bimbing
Hitamnya hati seorang manusia
Menjadi seputih asa dalam hati
Tuk mengharap segala pengampuan-Mu

TOGAKU BUKAN CITAKU
( Bait 1 )
Kala itu, togaku menjadi saksi hidupku
Ayah dan ibuku pun meneteskan air mata melihatku
Aku tak yakin apa yang mereka rasakan
Terharu, senang, atau justru mereka sedih

( Bait 2 )
Saat toga itu kupakai dan kuberkaca
Aku ini bukan orang hebat, hanya manusia biasa
yang mendapat peruntungan saja
Tapi, tak mendapatkan apa yang kuinginkan

( Bait 3 )
Inginku menggapai cita-cita yang sudah kuimpikan
Namun, tak tercapai karena hati nuranilah
yang menggiringku untuk membahagiakan orang tua
Ayah, Ibu, semoga kalian bahagia untuk ini

( Bait 4 )
Memang, aku berhasil saat ini
Berhasil karena nuraniku untuk kalian
Namun, sebenar yang kurasa saat ini
Tak sebenar yang kuinginkan menurut hati

( Karya : Endah )

Menjaga Kesabaran
Karya : Endah Utari

Seruan fakta mengalir dalam pikir
Sejenak ku singkirkan amarah
Yang menghalang sucinya hati
Menghela nafas panjang adalah
berkah tuk hatiku

Jadikan putih dalam kebersamaan
Satukan damai untuk murninya senja nanti
Kala kasih membelit nuraniku
Jiwaku pun terjaga
Tuk berucap Astaghfirllah

Menunduk dan berdoa
Cahayakan hatiku menjadi
manusia beriman
Sampai waktuku usai

Surat gaib buatku

SURAT GAIB BUATKU

Sepucuk surat berwarna hitam putih
Terselip rapi di kantong celanaku
Namun, sepuluh makna karena itu
Teringat aku akan inginku
Jauh lepas di alam baka

Wahai Malaikat pencabut nyawa
Kemanakah aku harus berjalan
Dalam jalanmu, aku ketakutan
Jika tanpa jalanmu, aku tersesat

Hai,, cahaya itu menjemputku
Tak mau aku,sungguh belum mau
Aku ingin sekali, lebih bahagia
Lebih bahagia dan lebih berharga
Sampaikan itu pada-Nya, wahai cahaya

Masih satu hal lagi yang ingin kugapai
Karena itu jika terengkuh
mampu membawaku dalam surga-Mu
Hitamku masih terlalu lebih
Suratku masih tergenggam di telapak putihku

Berikan satu kesempatan untukku
Kan kuperbaiki suratku itu
mengguyurkannya dengan warna putih
Tak bernoda oleh apa pun
Dan jika itu yang Kau ijinkan

(ENDAH)

peraduan hati

PERADUAN HATI

Sesaat gelombang meriuh
kembali datang kasihmu kala lalu
Setiap waktu ku memandangmu
dalam langit malam
Ketika rembulan menyandarkan tubuhnya

Dalam gelap hitamnya malam
Terdengar sayup kabar mendebar
Seakan kau datang merayuku
Merdu indah kasih sayangmu

Melambai lembut ketika kau dengarkan
senada rimba cinta bagiku
Walau kau jauh di sana
Kurindukanmu seperti burung
yang rindukan sarangnya

Seandai kau pilih melati
Harumnya kan selalu menemani
Seandai kau pilih kamboja
Harumnya serasa mencekik 
Mencekik hatiku 
yang sudah tak terpilih

Sudahlah, ku kan bertahan
Di antara darah dan nanah
Membelenggu dalam urat nadiku
Mengarap kehadiranmu
Seribu hari pun
Kau kan kutunggu

(ENDAH)

lima makna

LIMA MAKNA

Satu hati relakan untuk semua
Berbagilah walau hanya rasa
Rebahkan segala dendam
dalam pelukan damai

Melihatlah dengan pikiran
Beradu antara mimpi dan nyata
Tak mengapa
karna itu jalan
Jalan menuju kesuksesan

Senyumlah sesuai hati
Sebelum cahaya mentari
Menghujam nyawa

Mendekatkah engkau pada hakekat
Manusia bukanlah tersempurna
Serukan makna hidup
untuk kedamaian masa

Pusatkan raga untuk kebaikan
Laksana embun membuai dunia
Abadikan raga untuk deretan asa
Seenak saja, sesuai rasa dan raga

(ENDAH)

ic liebe dich

ICH LIEBE DICH

Ich, tak tau apa maunya
Ich, tak tau harus gimana
Ich, tak tau kau pilih mana
Ich, tak tau perasaanmu



Liebe, kau datang tak diminta
Liebe, kau pergi tak kuasa
Liebe, kau selalu sembunyi
Liebe, kau akan ada selamanya

Dich, taukah perasaanku?
Dich, taukah keinginanku?
Dich, maukah temaniku?
Dich, maukah jadi semuku?

Ich liebe dich...
Susah memang untuk diucapkan
Karena kau dan aku
sudah hidup dalam dunia berbeda
Beda karena raga

(ENDAH)

anata wakaranai

ANATA WAKARANAI

Kamu selalu kuinginkan
Dimana pun
Kapan pun
Walaupun
Andaipun


Tak mengerti
Untuk dimengerti
Karna tak tau
Atau tak mau tau


(END.S.U)




puisi untuknya

PUISI UNTUKNYA

MENGAPA

Mengapa aku harus kenal dia?
Mengapa dia harus masuk ke teman?
Mengapa dia harus meminta?
Mengapa dia memaksa?

Sebelum kukenal dia,,
Ku tak sesakit ini
Sebelum kumengenalnya
Ku tak sekeras ini...

Namun, semua sudah tak berarti
untuk diilhami secara logika
Karena cinta tlah berkata
Pada kata pertama
yang menjadikan komitmen bersama
Tapi, komitmen semu dalam cerminku

Sekarang, aku selalu ingin
Bersama dan terus bersama
Dalam tanda dan dilema
Dalam suka dan nestapa

Walau jauh sudah dibalik harap
Dia telah menyerukan kata
'Tidak' jika ku miliknya
Tak mungkin dan tak pernah mungkin
Mimpiku bersanding dengannya
Terwujud sesuai rencana

Hanya benih cinta dalam diri
Menghibur kesungguhan hati
untuk tetap mengakuinya
Menjadikannya paling suci
di dunia ini

Senyum kecil tak berdosa
dalam pangkuan
Kan selalu kudamba
Walau dia tak sanggup
Membawa pada dunia yang indah
Bersenda bersama sang ayah

Akankah nuraninya menjawab
Semua rasanya padaku
Sungguhkah ??
Atau hanya tipuan??

Akankah nuraninya tersentuh
Mendengar tangisan tak bernoda
Titipan sang Pencipta
Menghias nada alam semesta

Kutanya Mengapa
Dan kuharap kau jawab mengapa
Kekasih dalam bayang
Nuranilah kuharap menjawab ini

(ENDAH)

lupakanmu tak kan membunuhku

LUPAKANMU TAK KAN MEMBUNUHKU

Lupakanmu Tak kan Membunuhku

Setiap jengkal tanah kulalui
Berpikir kau akan memikirkanku
Namun, sulit sudah kubertindak
Entah seperti apa yang kau mau
Tak sekalipun kau pikirkanku



Pernah kau kata rindu
Tak percaya aku padamu
Matamu menunjuk satu kebohongan
yang kan terus kau lukis
Hanya untukku

Kau bilang "Aku yang telefon kamu duluan"
Berarti itu tanda kau rindu
Hanya kata, hanya katamu saja
Nyatanya juga tak sama

Bias sudah rasa ini
Terselimut kabut benci
dan tergores pena duri
Melukai, menancap, membunuh nadi
Sampai-sampai ku tak mengerti
Seperti apa aku saat ini

Benci kini tak berarti juga
Mana dia tahu hati ini
Robek saja dia tak peduli
Picingkan hati untukku di sini

(END.S.U)

awalan pe- menjadi kisah

Awalan Pe- Menjadi Kisah

Awalan Pe- menjadi Kisah

Perlawanan menuai kemunafikan
Pengkhianatan menjadi keajaiban
Pengorbanan menjadi kesedihan
Pengakuan menjadi kebencian

Tak selayaknya kuberbuat
Penipuan menuai perzinaan
Pengakhiran membelai peraduan
Percintaan menjadi kesalahan
Permainan menjadi kenyataan

Cukup puisi ini ungkapkan
Apa yang kurasa
Bagai badak tak bertanduk
Bagai harimau tak bernyali

(END.S.U)

LAKUKAN SAJA



LAKUKAN SAJA

Apa maumu lakukan saja
Selama hatimu masih berpihak
Pada suka akan akalmu
Pada sehat akan budimu

Derita, duka, benci, dan menangis
Tertawa, bahagia, cinta, dan senyuman
Hiasi saja demi hidupmu
Karena tak kan ada yang abadi
Karena tak kan ada yang terus mengabdi

Masukkan kenangan pahit dalam jurang kekekalan
Ambillah masa indah dan simpan
Baik-baik saja dalam saku hatimu
Simpan selama kau masih mau

Tidurkan penggalan kisah lalumu
Mimpikan rahasia kebahagiaan mendatang
Torehkan kemuliaan walau hanya sedikit
Sunggingkan kecintaan melalui mulutmu

Kau, aku, dan siapapun kamu
Ikuti apa yang ingin kau lakukan
Selama dunia masih bulat
Putarlah agenda walau harus tertahan
Karena tersipu akan kokohnya harga
Harga diri yang harus terjaga rapi

( by, endah septi )

dilema musim cinta

DILEMA MUSIM CINTA



Selembar kertas menyapaku
Selamat pagi sayang...
Berdebar seluruh hatiku
Sampai tak tertahan ku tersipu

"Lagi apa sayangku?
Aku rindu di pangkumu
Apakah ada waktu untukku?
Bertemu dan bercanda denganmu"

Itulah yang selalu kuterima
Setiap saat dan setiap pagi
Namun, sapaan itu mengkhawatirkan
Membangunkan keraguanku padanya

Terkadang kubahagia
Terkadang kutakut
Terkadang ingin
Terkadang tak mau

Satu nyawa telah mengikatku
Pada dilema keabadian
Menggulirkan secerca asa
Menghilangka sejuta asa pula

Jalinan terlarang menjadi dilema
Begitu ku ragu begitu ku mau
Untuk kau yang menyapaku
Tetaplah menyapa walau telah senja

Dan untuk kau kekasihku
Maaf karena ku mengirismu
Menikmati madu di belakangmu
Mengertilah karena ku hanya insan biasa

by; endah septiani

SEHATI DALAM HATI

SEHATI DALAM HATI

kamu bertanya kepadaku?
dimana haruskah aku berteduh?
dan kamu bertanya lagi
dimana haruskah aku bersandar?

keinginanmu terlalu lampau kau pahami
keinginanmu semakin tidak kau pahami
keinginanmu selalu menjadi satu yang kau pahami
keinginanmu tidak sepenuhnya kau pahami

dan kau bertanya lagi
mengapa kau berkata seperti itu?
dan aku menjawab
karena masa lalumu terlalu penting
dan tak bisa kau lupakan

kau kembali bertanya,
tapi kali ini kau bertanya hanya dengan senyum
memang, tapi tidak sekarang
dan maukah kau menjadikanku disampingmu?

terlalu terpukau ku dengan pertanyaanmu
saat ini tak mampu kujawab dengan sempurna
hanya satu tanda yang kuberi
tanda itu kuungkapkan dengan sempurna
senyumanmu akan kubalas senyumanku
namun, perlahan saja, rasamu kan terbalas

(E.N.D.S.U.)


  TUGAS PRODUKSI BIOGRAFI TOKOH DI INDONESIA 1. Setiap siswa membuat biografi tokoh sesuai dengan nomor presensi (pembagian tokoh terlampir)...